Bu, ini benar jagung yang kita tanam tiga bulan lalu?
Pertanyaan polos itu masih saya ingat betul. Rasa takjub di wajah siswa saya yang hidup di tengah Kota Depok dan baru pertama kali melihat jagung tumbuh di lahan sekolah, menjadi bukti bahwa pembelajaran nyata mampu menyalakan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap proses produksi.
Saya adalah guru ekonomi SMA di sebuah sekolah swasta. Pada 2017, saya juga ditugaskan mengampu mata pelajaran Pendidikan Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) kelas X. Bagi saya, PKWU adalah ruang baru untuk membuktikan bahwa pendidikan bukan sebatas teori, tetapi tentang bagaimana siswa memahami proses mencipta dan memberi nilai pada hasil karyanya. Dari empat keterampilan utama dalam PKWU: budidaya, pengolahan, rekayasa, dan kriya, saya memilih budidaya dan pengolahan sesuai dengan kebutuhan siswa dan daya dukung sekolah.
Dari Jagung ke Sayuran Hidroponik
Pada semester pertama, kami memanfaatkan lahan yang belum dimanfaatkan sekolah untuk menanam jagung. Pilihan sederhana ini membawa makna besar. Sebagian besar siswa saya yang merupakan masyarakat perkotaan belum mengenal proses menanam. Tak disangka, kebun jagung kami menjadi media belajar bagi siswa TK di sekolah yang sama. Adik-adik TK datang berkunjung, belajar mengenal tanaman, bahkan ikut panen bersama kakak kelasnya di SMA.
Pemandangan itu mengharukan. Kakak SMA menggandeng adik kecilnya memetik jagung, saling tertawa dan berbagi cerita. Saya melihat bagaimana gotong royong dan kerja sama tumbuh kembali di tengah lingkungan perkotaan. Dari sepetak kebun sederhana, nilai-nilai karakter dan ekonomi produktif bisa hidup berdampingan.
Tahun berikutnya, lahan jagung harus dialihfungsikan menjadi area parkir. Namun, keterbatasan ruang justru mendorong saya berinovasi. Bersama seorang rekan guru, kami mengajukan izin mengembangkan budidaya sayuran hidroponik. Kami menanam pakcoy dan selada di halaman sekolah menggunakan sistem sederhana.
Siswa tidak hanya belajar menanam, tetapi juga mengenal proses bisnis kecil seperti mengemas hasil panen, menentukan harga jual, dan memasarkan kepada guru serta orang tua. Di semester berikutnya, kegiatan berlanjut pada pengolahan hasil panen. Mereka merancang upaya bagaimana cara menambah value added sayuran hasil panen mereka. Melalui riset sederhana, berbagi ide kreatif pun bermunculan. Selada diolah jadi salad, pakcoy jadi mie hijau, bakso sayuran, es krim, dan camilan sehat lainnya. Semua dilakukan lewat proses uji coba, review, dan perbaikan berkelanjutan.
Hydroponics Company: Belajar Layaknya Perusahaan
Dalam setiap proyek kelompok, saya menemukan tantangan baru, beberapa siswa cenderung pasif. Maka saya mengubah istilah kelompok menjadi perusahaan. Masing-masing siswa memiliki peran berbeda, layaknya di sebuah perusahaan. Ada yang berperan sebagai CEO, manajer pemasaran, manajer keuangan, manajer produk, hingga tim IT yang bertugas membangun dan mengelola marketplace digital.
Pendekatan ini saya sebut Hydroponics Company, sebuah model pembelajaran yang meniru sistem manajemen perusahaan. Siswa belajar menyusun rencana bisnis, menghitung modal, menentukan strategi promosi, dan menganalisis keuntungan. Puncaknya, mereka membuat marketplace menggunakan Google Site, menampilkan produk, harga, hingga testimoni pembeli. Promosi dilakukan lewat media sosial sekolah. Dari kebun kecil di sekolah, mereka belajar bisnis dengan pendekatan ekonomi digital.
Menumbuhkan Jiwa Eksportir Sejak di Ruang Kelas
Banyak orang berpikir bahwa ekspor hanya bisa dilakukan jika seseorang sudah memiliki usaha besar. Padahal, semangat itu bisa dimulai dari ruang kelas melalui proses belajar sederhana yang mengajarkan bagaimana mencipta, mengolah, dan memasarkan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) serta Kementerian Perdagangan telah meresmikan Sekolah Ekspor pada tahun 2020. Program ini memberikan pelatihan ekspor berbasis teknologi digital bagi UMKM agar dapat menembus pasar global. Menurut Meirina (2022), keberadaan Sekolah Ekspor membantu masyarakat awam memahami proses ekspor, sekaligus mendorong UMKM naik kelas.
Dari pengalaman mengajar ini, saya melihat tiga nilai utama yang menjadi ruh generasi muda bila kelak menjadi pelaku ekspor, yaitu:
Produktivitas, menciptakan sesuatu dari tangan sendiri.
Inovasi, memberi nilai tambah agar produk berdaya saing.
Keberanian, percaya diri bahwa karya anak bangsa layak diakui dunia.
Menurut Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, UMKM merupakan penopang utama ekonomi nasional. Dari sekitar 65 juta unit UMKM, sektor ini menyerap 90 persen tenaga kerja, tetapi kontribusinya terhadap ekspor nasional baru sekitar 15 persen. (Kadin, 2024). Sementara itu, publikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2024) menyebut bahwa terdapat 64 juta pelaku UMKM, atau 99,99 persen dari total pelaku usaha. Hal ini menunjukkan bahwa UMKM bukan hanya tulang punggung ekonomi nasional, tetapi juga ruang belajar terbesar bagi generasi muda untuk memahami bagaimana ekonomi bangsa bekerja. Jika sejak di bangku sekolah siswa sudah dikenalkan pada semangat berwirausaha dan berpikir global, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mencintai produk lokal, tetapi juga berani membawa karya Indonesia ke pasar dunia.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dalam kebijakan Kurikulum Merdeka juga menegaskan pentingnya pembelajaran berbasis proyek. Proyek seperti Hydroponics Company sejalan dengan semangat Profil Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, dan bergotong royong. Nilai-nilai ini dibutuhkan dalam dunia ekspor. Pendidikan berperan menyiapkan manusia yang mampu memanfaatkan fasilitas ekspor, pembiayaan, dan literasi keuangan yang disediakan pemerintah secara bijak dan produktif.
Pendidikan sebagai Investasi untuk Indonesia
Pengalaman ini membuktikan bahwa pembelajaran berbasis proyek tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter ekonomi produktif. Siswa belajar menghitung biaya, menyesuaikan harga jual, dan memahami arti keuntungan. Mereka belajar bahwa kerja keras dan kreativitas dapat menghasilkan nilai ekonomi nyata. Inilah bentuk konkret bagaimana pendidikan berkontribusi menumbuhkan semangat ekspor sejak dini.
Sekolah menjadi laboratorium kecil tempat siswa berlatih mencipta, berinovasi, dan berani menjual hasil karya mereka kepada dunia. Pendidikan yang menanamkan nilai-nilai ini adalah investasi sosial jangka panjang bagi kemajuan bangsa.
Menanam Mimpi Global dari Kebun Sekolah
Saya percaya, mimpi besar Indonesia menjadi negara berdaya saing global dimulai dari langkah-langkah kecil di ruang kelas. Dari sepetak kebun jagung di sekolah, dari selada hijau di rak hidroponik, dan dari marketplace digital sederhana yang dibangun siswa, saya melihat benih-benih eksportir masa depan Indonesia.
Suatu hari nanti, mungkin salah satu dari mereka akan menjadi pelaku ekspor yang mengenang masa sekolahnya saat pertama kali belajar menanam, menghitung biaya, dan menjual hasil karyanya sendiri. Dari situlah, mimpi kita untuk Indonesia menemukan wujudnya. Dari ruang kelas, dari kebun sekolah, dari tangan-tangan muda yang berani bermimpi besar untuk bangsanya.